Kalender

May 2012
M T W T F S S
« Feb    
 123456
78910111213
14151617181920
21222324252627
28293031  

TEMU ALUMNI DALAM RANGKA HUT IKAYANA KE-37 DAN MENYONGSONG HUT KODYA DENPASAR KE-20

Hari Jumat, 17 Pebruari 2012 telah dilaksanakan dengan meriah Temu Alumni dalam rangka HUT Ikayana ke-37 dan menyongsong HUT Kodya Denpasar ke-20.  Gedung Praja Utama Kodya Denpasar dipenuhi oleh Alumni Ikayana dengan suasana santai dan gembira.  Pada temu alumni ini juga dipaparkan tentang rencana kerjasama antara IKAYANA dengan Kodya Denpasar dalam berbagai bidang.  IKAYANA IKUT MEMBANGUN dan BERSAMA KITA BISA.

Sekretaris Umum Pengurus Pusat IKAYANA

I Made Supartha Utama

Pembelajaran Online Pascapanen Hortikultura

Dengan perkembangan ICT memungkinkan pembelajaran secara online kepada pembelajar yang tidak dibatasi oleh waktu, jarak dan ruang.  Pembelajaran secara online ini memberi kesempatan kepada publik sebagai pembelajar untuk menambah pengetahuan dan wawasan lebih luas terhadap suatu materi pembelajaran.  Program Studi Teknik Pertanian, Fakultas Teknologi Pertanian, Universitas Udayana telah mengembangkan materi pembelajaran secara online yaitu “Teknik Pascapanen Hortikultura” dan untuk semester pertama di tahun 2012 telah dimanfaatkan oleh mahasiswa pada Program Studi Ilmu dan Teknologi Pangan, Universitas Sam Ratulangi Manado.  Telah pula dirancang Materi pembelajaran lainnya seperti “Ritel Produk Segar Hortikultura”, Fisiologi Pascapanen Hortikultura”, dan “Manajemen Rantai Pendingin Hortikultura” yang siap di “share” kepada publik sebagai masyarakat pembelajar di seluruh Indonesia melalui jejaring internet.  Pembelajaran online ini dapat diakses melalui “http://elearning.unud.ac.id”.

HI-Link, USAID-AVRDC and USAID Texas A&M Projects Support the Strengthening of Highland Horticultural Crops in Bedugul-Bali

Three different projects are implemented by Udayana University at Bedugul Bali with different names which actually all support the strengthening of highland horticultural competitiveness in facing global-free market in Bali.  HI-Link (Higher Education and Industrial Linkage) project is share funded by three different parties, namely Directorate General of Higher Education, an horticultural intermediary and  Local Government of Tabanan Regency which aims to develop an agribusiness value chains inclusive to small farmers.  USAID-AVRDC Project which is funded by USAID mostly emphasis on the improvement of production system for small farmers in order to create market values.  The USAID – Texas A&M University project which is also called “Tropical Plant Curriculum Project” emphasis on the development of underutilized tropical plants for the benefit of small farmers, the delopment of university staff’s capacity in doing research specific for underutilized plants and disseminating the results into the curriculum of University.  Different types of trainings on the sites have been implemented under the HI-Link project to improve human resources (farmers) in order to support the development of a sustainable Agribusiness Value chains.

Discussion with farmers for activities of HI-Link Project

Pengembangan Teknologi Pascapanen Hortikultura melalui Pembelajaran Berbasis TIK (On-line Learning)

Pemerintah Indonesia telah meluncurkan Undang-undang Republik Indonesia Nomor 13 Tahun 2010 tentang Hortikultura, di mana pada Pasal 13 secara jelas dinyatakan bahwa pemerintah dan pemerintah daerah berkewajiban meningkatkan keahlian dan keterampilan sumber daya manusia hortikultura untuk memenuhi standar kompetensi. Hal ini menunjukkan bahwa pendidikan sumber daya manusia terkait dengan teknologi hortikultura sangatlah penting. Penyebaran pengetahuan maupun keterampilan praktis teknologi pascapanen hortikultura harus dilakukan dengan berbagai upaya, termasuk memanfaatkan jejaring e-learning melalui distance learning di perguruan tinggi.  Dengan core competensi yang cukup kuat di bidang teknologi pascapanen hortikultura yang dimiliki Jurusan Teknik Pertanian, Fakultas Teknologi Pertanian Universitas Udayana, telah menjadikan mata kuliah Teknik Pascapanen Hortikultura  sebagai mata kuliah penting pada kurikulum Program Studi Teknik Pertanian di Fakultas tersebut.  Demikian pula, perangkat pembelajaran telah dikembangkan meliputi modul ajar dan buku kerja, perangkat video, instrument assessment berbasis kompetensi, ragam sumber pembelajaran lainnya yang diupload pada weblog dosen, menjadikan mata kuliah ini menarik bagi mahasiswa.  INHERENT Dikti adalah merupakan media yang sangat baik untuk penyebaran ilmu dan teknologi melalui pembelajaran online berbasis TIK yang tidak terbatasi oleh jarak dan waktu.  Terlebih lagi Negara Indonesia terdiri dari kepulauan. Program Studi Teknik Pertanian, FTP – Unud sedang merancang pembelajaran online tersebut dengan salah satu mitra perguruan tinggi di Indonesia.

Pelatihan Bagi Petani untuk Mendukung Kemitraan Rantai Nilai

Berbagai program pelatihan dilaksanakan kepada petani daerah Bedugul-Baturiti untuk mendukung kemitraan rantai nilai yang difasilitasi oleh Universitas Udayana dan Pemkab Tabanan.  Pelatihan meliputi perbaikan sistem produksi kentang dan strawberry, penanganan pascapanen dan pengembangan produk strawberry, manajemen kelompok tani pendukung kemitraan, penjaminan mutu dan keamanan pangan, dan sebagainya.  Daerah Bedugul dikenal sebagai sentra produksi sayur-sayuran dan buah-buahan dataran tinggi yang bernilai tinggi. Pada intinya, pelatihan ini bertujuan untuk meminimalisasi kesenjangan yang terjadi antara petani pendukung kemitraan dan industri usaha di daerah Bedugul, sehingga nilai-nilai yang berkembang di pasar modern dan pariwisata (international hotels, restaurants and catering services) di Bali dapat dikreasi dengan baik.  Dengan demikian diharapkan akan terbangun Rantai Nilai Agribisnis yang mampu bersaing pada pasar yang dinamis dan kompetitif.  Pengembangan rantai nilai agribisnis ini lebih pada pendekatan sistem yang inclusif untuk petani kecil.  Kegiatan ini adalah bagian dari program “Higher Education and Industrial Linkage” (HI-Link) yang diselenggarakan oleh Universitas Udayana.


Salah satu gambar Tim HI-Link Universitas Udayana sedang merumuskan program kegiatan dengan petani pendukung kemitraan rantai nilai

Pengalaman Baik: Permasalahan Sosial, Salah Satu Hambatan Pengembangan Rantai Nilai Agribisnis di Bali

Dalam usaha mengembangkan rantai nilai agribisnis terkait dengan membangun / mengkreasi nilai-nilai sesuai dengan kebutuhan pasar/konsumen, dalam hal ini adalah pasar moderen, perbedaan-perbedaan dan keinginan untuk tidak bersatu untuk membangun rantai nilai adalah hambatan siginifikan sementara ini.  Namun ini, secara positive, merupakan pengalaman dan pelajaran bagi kami untuk menyadarkan pelaku-pelaku agribisnis termasuk kelompok tani bahwa kekuatan sendiri untuk membangun nilai belum mencukupi untuk menghadapi persaingan pasar moderen.  Di dalam persaingan tersebut ragam tuntutan harus dipenuhi.  Seperti diketahui bahwa yang dimaksud dengan “Nilai” adalah “Nilai = (mutu x pelayanan) / (biaya x pemenuhan waktu)”. Walaupun Nilai digambarkan sebagai formula sederhana, namun dalam mengkreasinya memerlukan beragam aktivitas dan jejaring kerja yang luas.  Dalam mengkrasi tersebut memerlukan waktu tergantung pada banyak faktor.  Benar adanya bahwa membangun rantai nilai memerlukan pendekatan system termasuk di dalamnya komponen faktor sosial.  Kita akan terus berjuang dan hambatan-hambatan dalam membangun system agribisnis serta solusinya merupakan pelajaran yang baik dalam mengembangkan kapasitas kita membangun masyarakat khususnya petani sasaran binaan.

Membangun Rantai Nilai Agribisnis Inclusif untuk Petani Skala Kecil

Membangun rantai nilai agribisnis yang melibatkan petani kecil bukanlah merupakan suatu yang instan. Dengan pendekatan sistem dimana nilai-nilai pasar / konsumen global yang berkembang dinamis, maka pengembangan rantai nilai tersebut memerlukan cukup waktu. Terlebih lagi pola-pola pengembangan pertanian yang sering pendekatannya projek dan parsial, dimana selesai durasi berjalannya projek (biasanya 1-3 tahun), sering keberlanjutannya mengalami kegagalan. Hal ini menyebabkan trauma petani kecil dan sering berkesan pasif karena ketidakpercayaan yang telah tumbuh terhadap projek-projek pertanian dari lembaga-lembaga pemerintah maupun non-pemerintah. Kalaupun mereka menerima pendekatan projek-parsial tersebut tetapi jarang disambut dengan kreatifitas dan inovasi dan terkesan hanya menjalankan program tanpa ada jaminan keberhasilan dan keberlanjutannya.

Pendekatan sistem dan pendampingan berkelanjutan sangat diperlukan untuk mengembangkan rantai nilai agribisnis yang inklusif untuk petani skala tersebut, dimana nilai-nilai yang berkembang baik pasar lokal maupun global seperti di Bali dapat dikreasi secara bersama-sama. Intermediary dari rantai suplai yang visioner, mempunyai cengkeraman pasar kuat dan yang memerlukan dukungan produksi dari petani-petani sepertinya merupakan rantai yang perlu dan penting dibina dan didampingi secara berkelanjutan untuk membentuk rantai nilai dalam menghadapi tuntutan pasar pariwisata-global di Bali.  Tuntutan pasar yang dimaksud adalah adanya sistem penjaminan mutu dan berproduksi ramah lingkungan.  Untuk itu, Universitas Udayana telah memulai pengembangan rantai nilai agribisnis hortikultura dataran tinggi di Bedugul-Bali.  Bekerja sama dengan salah satu partner industri / intermediary (UD. Sila Artha) yang mempunyai pasar cukup beragam seperti 75 hotels dan restaurant, supermarket dan ditambah beberapa usaha katering.  Program ini dikemas dengan nama Higher Education and Industrial Linkage (Hi-Link), ditambah lagi satu partner yaitu Pemerintah Daerah Kabupaten Tabanan – Bali.  Tiga parties kemitraan yang terlibat, yaitu Unud dibantu oleh Dirjen Pendidikan Tinggi (Dikti), intermediary dan Pemda Kabupaten Tabanan,  berbagi mengeluarkan pendanaan untuk pengembangan rantai nilai ini. Berbagai kesenjangan-kesenjangan mulai dari pasar dengan intermediary mitra, dan antara intermediary mitra dengan petani-petani skala kecil pendukungnya telah mulai diidentifikasi dan telah dimulai pembinaan-pembinaan dengan pendekatan sistem.  Para petani pendukung intermediary mitra menyambut dengan baik usaha pengembangan dengan pendampingan berkelanjutan dari Universitas Udayana.  Universitas Udayana (Unud) dengan Tim terintegrasi dari berbagai bidang kompetensi berkomitmen untuk pembinaan dan pendampingan berkelanjutan untuk pengembangan rantai nilai agribisnis tersebut.  Forum diskusi intensif antara pihak Tim Unud dengan berbagai aktor yang terlibat dalam pengembangan rantai nilai ini telah disenggelarakan dan berkomitmen bersama dalam pengembangan rantai nilai untuk selalu merespon perubahan pasar pariwisata-global di Bali.

Berkaitan dengan HI-Link ini, berbagai kegiatan termasuk kajian teknologi telah dan mulai dikembangkan, pembangunan infrastruktur seperti greenhouse dan packinghouse telah dibangun, berbagai peralatan sedang dalam proses pengadaan terutama untuk kegiatan dalam packinghouse dan peralatan untuk processing.  Demo plot sedang dikembangkan bersama indisutri / intermediary dan petani-petani pendukung.

Berbagai pihak yang ingin ikut terlibat dalam mengembangkan sistem ini akan kami sambut dengan baik.  Sehingga kesenjangan-kesenjangan terutama antara pasar modern-global dengan petani-petani skala kecil dapat diperkecil untuk menciptakan masyarakat yang damai dan harmonis di Bali.

Hi-Link Office dan Klik pada Gambar anda akan lihat pembangunan packinghouse

Pengembangan Teknologi Pascapanen Hortikultura melalui Pembelajaran Berbasis TIK (Online)

Pemerintah Indonesia telah meluncurkan Undang-undang Republik Indonesia Nomor 13 Tahun 2010 tentang Hortikultura, di mana pada Pasal 13 secara jelas dinyatakan bahwa pemerintah dan pemerintah daerah berkewajiban meningkatkan keahlian dan keterampilan sumber daya manusia hortikultura untuk memenuhi standar kompetensi.  Hal ini menunjukkan bahwa pendidikan sumber daya manusia terkait dengan teknologi hortikultura sangatlah penting. Penyebaran pengetahuan maupun keterampilan praktis teknologi pascapanen hortikultura harus dilakukan dengan berbagai upaya, termasuk memanfaatkan jejaring e-learning melalui distance learning di perguruan tinggi.  Dengan core competensi yang cukup kuat di bidang teknologi pascapanen hortikultura yang dimiliki Jurusan Teknik Pertanian, Fakultas Teknologi Pertanian Universitas Udayana, telah menjadikan mata kuliah Teknik Pascapanen Hortikultura  sebagai mata kuliah penting pada kurikulum Program Studi Teknik Pertanian di Fakultas tersebut.  Demikian pula, perangkat pembelajaran telah dikembangkan meliputi modul ajar dan buku kerja, perangkat video, instrument assessment berbasis kompetensi, ragam sumber pembelajaran lainnya yang diupload pada weblog dosen, menjadikan mata kuliah ini menarik bagi mahasiswa.  INHERENT Dikti adalah merupakan media yang sangat baik untuk penyebaran ilmu dan teknologi melalui pembelajaran online berbasis TIK yang tidak terbatasi oleh jarak dan waktu.  Terlebih lagi Negara Indonesia terdiri dari kepulauan. Program Studi Teknik Pertanian, FTP – Unud sedang merancang pembelajaran online tersebut dengan salah satu mitra perguruan tinggi di Indonesia.

Pengembangan Teknologi Pascapanen Hortikultura melalui Pembelajaran Berbasis TIK (Online)

Pemerintah Indonesia telah meluncurkan Undang-undang Republik Indonesia Nomor 13 Tahun 2010 tentang Hortikultura, di mana pada Pasal 13 secara jelas dinyatakan bahwa pemerintah dan pemerintah daerah berkewajiban meningkatkan keahlian dan keterampilan sumber daya manusia hortikultura untuk memenuhi standar kompetensi.  Hal ini menunjukkan bahwa pendidikan sumber daya manusia terkait dengan teknologi hortikultura sangatlah penting. Penyebaran pengetahuan maupun keterampilan praktis teknologi pascapanen hortikultura harus dilakukan dengan berbagai upaya, termasuk memanfaatkan jejaring e-learning melalui distance learning di perguruan tinggi.  Dengan core competensi yang cukup kuat di bidang teknologi pascapanen hortikultura yang dimiliki Jurusan Teknik Pertanian, Fakultas Teknologi Pertanian Universitas Udayana, telah menjadikan mata kuliah Teknik Pascapanen Hortikultura  sebagai mata kuliah penting pada kurikulum Program Studi Teknik Pertanian di Fakultas tersebut.  Demikian pula, perangkat pembelajaran telah dikembangkan meliputi modul ajar dan buku kerja, perangkat video, instrument assessment berbasis kompetensi, ragam sumber pembelajaran lainnya yang diupload pada weblog dosen, menjadikan mata kuliah ini menarik bagi mahasiswa.  INHERENT Dikti adalah merupakan media yang sangat baik untuk penyebaran ilmu dan teknologi melalui pembelajaran online berbasis TIK yang tidak terbatasi oleh jarak dan waktu.  Terlebih lagi Negara Indonesia terdiri dari kepulauan. Program Studi Teknik Pertanian, FTP – Unud sedang merancang pembelajaran online tersebut dengan salah satu mitra perguruan tinggi di Indonesia.

Berbagi Visi Pengembangan Hortikultura dengan Gubernur Bali

Berbagai permasalahan dan tantangan pengembangan pertanian di Bali khususnya hortikultura perlu disikapi dengan baik.  Berkenaan dengan hal tersebut, pada hari Selasa 21 Juni 2011 lalu beberapa tim pendamping rantai nilai hortikultura kawasan bedugul sebagai sentra produksi hortikultura di Bali berbagi visi dengan Bapak Gubernur Bali Made Mangku Pastika.  Pertemuan tersebut dihadiri pula oleh kepala SKPD  terkait (Kadis Pertanian Tanaman Pangan Provinsi Bali, Kadis Perkebunan Provinsi Bali dan Kadis Pendidikan Provinsi Bali).  Suasana keakraban dengan waktu tersedia cukup panjang (15:00 – 17:00) telah mengarahkan diskusi pada pentingnya pendampingan berkualitas terhadap rantai nilai agribisnis hortikultura di Bali oleh Ikayana dan pihak-pihak terkait untuk melakukan usaha-usaha meminimalisasi kesenjangan-kesenjangan (gaps) yang lebar antara satu rantai dengan rantai lainnya mulai dari produksi sampai pemasaran secara sistematik.  Salah satu usaha yang penting dan prioritas untuk meminimalisasi kesenjangan tersebut adalah perlunya pendidikan SDM yang bermutu terhadap angkatan muda pertanian.  Pendidikan bermutu adalah pendidikan yang mampu menangkap isu-isu yang juga merupakan nilai-nilai pasar terkini yang berkembang dinamis dan mengkreasinya menjadi skills yang harus dimiliki oleh peserta didik.  Pada awalnya disepakati untuk dimulai dengan pendidikan kecakapan hidup (life skills education) yang merupakan pendidikan non-formal.  Karena kegiatan yang akan dikembangkan ini merupakan misi sosial maka sangat memerlukan dukungan dari berbagai pihak untuk dapat berjalan dengan baik.  Mengingat pentingnya pengembangan SDM pertanian hortikultura yang tangguh, kreatif, inovatif dan adaptif terhadap perubahan pasar yang dinamis serta berlandaskan pada pengembangan pertanian yang berkelanjutan, maka perlu dikembangkan resource and training center di pusat produk pertanian hortikultura seperti Bedugul-Bali.